Friday, April 22, 2016
makalah teori Emile Durkheim
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap manusia selalu mengalami perubahan. Siklus perubahan yang dialami manusia dimulai sejak lahir-bayi-anak-remaja-dewasa-tua-mati. Perubahan terjadi pada setiap individu dalam lingkungan masyarakat, dan masing-masing individu juga sekaligus menjadi unsur dari system social dalam masyarakat tersebut. Sebagaimana konsep kebudayaan dapat dibedakan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka kebudayaan dapat dibedakan menjadi dua hal, yakni kebudayaan material dan immaterial. Demikian pula perubahan social yang terjadi dalam masyarakat juga dapat dikategorikan menjadi perubahan yang bersifat material dan immaterial. Perubahan yang menyangkut manusia dan masyarakat inilah yang dinamakan perubahan social .
Segala hal yang berkaitan dengan kehidupan pasti mengalami perubahan artinya bahwa perubahan terjadi karena adanya kehidupan. Tanpa kehidupan, maka tidak akan terjadi perubahan. Setiap masyarakat dengan sendirinya pasti mengalami perubahan. Anda dapat mengamati perubahan yang terjadi dilingkungan sekitar anda,
Perubahan sosial bergerak ke dua arah, yaitu ke arah yang positif dan ke arah yang negative. Perubahan ke arah positif dinamakan perkembangan atau dinamika. Sedangkan perubahan ke arah yang negatif terdapat banyak istilah seperti halnya degradasi, kemunduran, dan lain sebagainya. Setiap perubahan social baik yang positif maupun negative membawa akibat atau dampak bagi masyarakat. Dampak dari suatu perubahan pada umumnya berlangsung lama meskipun penyebabnya sederhana saja. Dengan demikian, sebagai individu dan anggota masyarakat kita harus menyadari arti penting perubahan, dan memaknainya untuk kelangsungan hidup yang lebih baik. Ini berarti perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah positif atau berupa perkembangan.
Dalam kajian Sosiologis, mengenal pula adanya hukum sebab-akibat. Sebagaimana telah Anda pelajari sebelumnya bahwa perubahan terjadi karena adanya kehidupan, dan berdampak pada kehidupan yang baru. Dengan demikian setelah ada penyebab perubahan, kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat yang mengalami perubahan tersebut. Masyarakat harus mampu menyesuaikian diri dengan perubahan-perubahan tersebut. Dalam menyikapi dampak perubahan itu sendiri, maka perlu sikap yang arif dan bijak dari setiap masyarakat, sehingga tidak terjebak pada cara-cara penerimaan yang menimbulkan konflik dan keruntuhan tatanan masyarakat.
Secara garis besar, perubahan social dipengaruhi oleh factor yang berasal dari dalam dan luar masyarakat itu sendiri. Di antara factor yang bersal dari dalam masyarakat seperti perubahan pada kondisi ekonomi, social, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun yang berasal dari luar masyarakat biasanya ialah yang terjadi diluar perencanaan manusia seperti bencana alam. Kedua factor-faktor ini memunculkan teori perubahan social, diantaranya Teori Evolusi (Evolusionary Theory) meliputi perubahan social secara lambat (Evolusi) dan perubahan social secara cepat (revolusi).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bangaimana Biografi Emile Durkheim?
2. Bangaimana Teori Sosiologi Dari Emile Durkheim?
3. Bangaimana Relevansi Dari Teori Emile Durkheim?
1.3. Tujuan yang Akan Dicapai
1. Untuk Mengetahui Dan Memahami Biografi Emile Durkheim.
2. Untuk Mengetahui Dan Memahami Teori Sosiologi Dari Emile Durkheim.
3. Untuk Mengetahui Dan Memahami Relevansi Dari Teori Emile Durkheim.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Biografi Emile Durheim (1858-1917)
Emile Durkheim lahir pada 15 April 1858 di Epinal, Prancis. Ayahnya adalah penganut Yahudi yang taat sedangkan kakeknya merupakan seorang rabi (pemuka agama yahudi). Karena merupakan keturunan rabi, maka secara otomatis ia belajar agama Yahudi. Pada usia belasan tahun, Durkheim menyangkal jika dirinya adalah keturunan rabi. Bahkan,ia kemudian menyangkal agama ayahnya dan memilih menjadi seorang sekuler.
Saat menempuh pendidikan di sekolah menengah, Durkheim adalah siswa yang cerdas. Pada usia 21 tahun, ia dinyatakan diterima di Ecole Normale Superieure, yakni salah satu pusat pendidikan terbaik di Prancis. Di tempat itu, ia mengambil studi ilmu sejarah dan filsafat. Durkheim kerap merasa kecewa dan menolak karir akademik tradisional di bidang filsafat seraya berusaha memperoleh pelatihan ilmiah yang bisa memandunya menjalani kehidupan social.
Walaupun Durkheim tertarik dengan sosiologi ilmiah, tetapi disiplin itu belum dikenal. Pada rentang tahun 1882 hingga 1887, ia mengajar filsafat di beberapa sekolah provinsi di sekitar Paris. Hasratnya terhadap ilmu pengetahuan semakin besar ketika ia melakukan perjalan ke Jerman. Tidak lama setelah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan beberapa karya yang melukiskan pengalamannya. Publikasi ini mendapat pengakuan di Departemen Filsafat Universitas Bordeaux pada tahun 1887. Di sana, Durkheim memberikan kuliah ilmu social untuk pertama kalinya di seluruh Prancis. Durkheim sangat antusias ketika mengajar materi tentang moral kepada calon pendidik adalah guru sekolah. Baginya, mengajar pelajaran moral kepada calon pendidik adalah tugas mulia karena dapat membenahi kerosotan moral yang terjadi di sana.
Tahun-tahun berikutnya ditandai dengan kesuksesan bagi Durkheim. Pada tahun 1893, ia menerbitkan tesis doctoral dalam bahasa Prancis berjudul The Division Of Labor In Society serta tesisnya dalam bahasa Latin tentang Montesqieu. Buku metodologis utamanya berjudul The Rule Of Sociological Method yang terbit pada tahun 1895. Kemudian, hal itu diikuti penerapan metode-metode tersebut dalam studi empiris pada buku Suicide. Pada tahun 1896, secara resmi ia diangkat menjadi professor di Universitas Bordeaux.
Pada tahun 1902, ia diundang oleh Universitas Sorbonne yang merupakan kampus paling terkenal di seluruh Prancis. Pada tahun 1906, ia menjadi professor resmi untuk ilmu pendidikan. Kemudian, pada tahun 1913, bidang ilmunya diubah menjadi ilmu pendidikan dan sosiologi. Sebelumnya, ia menerbitkan karya lain yang tidak kalah terkenal berjudul The Elementary Forms Of Religious Life pada tahun 1912. Emile Durkheim meninggal dunia pada 15 November 1917 pada usianya yang relative muda, yakni 59 tahun.
Adapun karya-karya Durkheim yang terkenal adalah The Division Of Labor In Society, The Elementary Forms Of Religious Life, The Rule Of Sociological Method.
2.2 Teori Sosiologi Klasik menurut Emile Durkheim
Durkheim adalah salah seorang yang memelopori perkembangan sosiologi. Ia telah banyak melakukan penelitian terhadap berbagai lembaga dalam masyarakat dan proses social yang selanjutnya membagi sosiologi kedalam tujuh bagian, yaitu
1.Sosiologi umum yang pembahasannya meliputi kepribadian individu dan kelompok manusia.
2.Sosiologi agama yang membahas perilaku para penganut agama yang terdiferensiasi (terbagi-bagi) dalam kelompok-kelompok agama yang berbeda-beda.
3.Sosiologi yang membahas tentang perilaku kejahatan baik kejahatan secara individual maupun secara kelompok.
4.Sosiologi hukum dan moral yang dominansi bahasan didalamnya adalah tentang organisasi politik, social, perkawinan dan keluarga.
5.Sosiologi ekonomi yang bahasan materinya mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja.
6.Sosiologi yang membahas perilaku masyarakat perkotaan (Urban society) dan perilaku masyarakat pedesaan (rural society).
7.Sosiologi estetika, yang pokok bahasannya mencakup karya seni dan budaya.
Teori Sosiologi Emile Durkheim,
A. Fakta Sosial sebagai Basis Ilmu Sosiologi
Ada dua pokok pemikiran Durkheim ketika ia mulai mengembangkan teori sosiologi klasiknya. Pertama, fakta social lebih utama dari pada fakta individual. kedua, ide bahwa fakta social bisa dijelaskan secara ilmiah. Sekalipun masih diperdebatkan, dua keyakinan itu nyatanya tetap menjadi inti dari studi sosiologi hingga saat ini.
Durkheim menyatakan bahwa fakta social adalah objek studi sosiologi yang paling utama sekaligus mendasar. Fakta social merupakan sebuah kekuatan dan struktur yang ada diluar, tetapi memiliki daya paksa terhadap individu. Dalam bukunya, The Rule Of Sociological Method (1895), tugas utama ilmu sosiologi yang baru lahir ini adalah mengkaji persoalan yang disebut fakta social.
Untuk melihat individu secara utuh, setiap orang hendaknya memperhatikan fakta social yang melingkupinya. Manusia hidup di dalam masyarakat, bukan sekedar bersama masyarakat. Masyarakat yang akan membentuk individu, bukan sebaliknya. Pernyataan Durkheim ini menekankan begitu pentingnya fakta social bagi keberadaan dan pembentukan manusia secara individu.
Durkheim mempercayai bahwa ide dasar sosiologi telah terbentuk sejak lama. Hal yang perlu ia lakukan adalah menggali ide-ide tersebut dan memisahkannya dari rumpun disiplin yang melingkupinya. Dalam hal ini, sosiologi masih mendapat pengaruh kuat dari filsafat dan psikologi. Dua ranah keilmuan tersebut juga salin mengklaim jika sosiologi hanyalah cabang filsafat atau sekedar pelengkap dari psikologi.
Untuk memisahkannya dari filsafat, Durkheim menekankan pembahasan sosiologi haruslah berupa fakta social. Ia menjelaskan bahwa fakta tersebut terdiri dari struktur social, norma budaya, agama dan kepercayaan, serta hal-hal yang berada diluar manusia tetapi memilki kekuatan memaksa. Artinya fakta social harus dipelajari berdasarka perolehan data dari luar pikiran, bukan menggunakan daya pikir intuitif yang tidak dilandasi studi lapangan sebagaimana filsafat. Dengan penekanan empiris terhadap fakta social.
1. Jenis Fakta Sosial
Durkheim membedakan fakta social menjadi dua, yakni material dan nonmaterial. Fakta social material relative lebih muda dipahami karena bisa diobservasi secara langsung melalui indra, seperti gaya arsitektur, institusi keagamaan, bentuk teknologi, dan hukum serta perundang-undangan tertulis.
Fakta social yang berikutnya bersifat nonmaterial. Fakta social jenis ini bersifat dorongan dari luar yang tidak tampak, seperti moral, norma, ajaran agama dan keyakinan, sertra budaya. Jenis fakta social nonmaterial inilah yang menjadi focus dan inti sosiologi Emile Durkheim. Menurutnya, fakta social nonmaterial tidak bisa diindra, tetapi ada dalam, pikiran individu. Sekalipun ada dalam pikiran, hal itu tetap berada dalam ketegori dorongan eksternal.
2. Bentuk Fakta Sosial Nomnmaterial
Selanjunya, Durkheim menjelaskan lebih lanjut mengenai fakta social nonmaterial. Ia berpendapat ada empat bentuk fakta social nonmaterial sebagai berikut.
a. Moralitas
Moralitas menurut Durkheim adalah fakta social. Hal ini disebabkan moralitas termasuk dorongan eksternal, dapat memaksa individu, serta bisa dijelaskan dengan fakta-fakta social lainnya.
b. Kesadaran Kolektif
Kesadaran kolektif merupakan sebuah sentiment yang diakibatkan oleh berbagai kesamaan, baik norma, budaya, ras, maupun keyakinan yang terwujud dari setiap individu.
c. Representasi Kolektif
Representasi kolektif merupakan daya social yang memaksa individu untuk menampilkan kesadarannya dalam berbagai bentuk symbol, seperti agama, mitos, ataupun tokoh panutan. Dan bisa mewujud dalam sebuah tindakan konkret atau tingkah laku.
d. Arus Sosial
Arus social atau dapat juga disebut fenomena social merupakan sebuah gejala dari fakta social lain yang mengakibatkan suatu perubahan pada masyarakat. Arus social juga bisa diartikan sebagai serangkaian makna yang disepakati dan dimiliki oleh seluruh anggota kelompok yang menimbulkan suatu dampak social.
B. Solidaritas Mekanis dan Organis
Didalam buku sekaligus desertasinya berjudul The Division Of Labor In Society (1893), Durkheim menjelaskan pembagian masyarakat dalam dua kesadaran kolektif yaitu solidaritas mekanis dan organis. Solidaritas mekanis biasanya ditemukan pada masyarakat di era modern. Adapun solidaritas organis terdapat pada masyarakat primitive.
Tipe kedua solidaritas tersebut menurut Durkheim jelas berbeda. Jika solidaritas mekanis diikat oleh factor kebutuhan dan spesialisasi pekerjaan atau profesi, masyarakat primitive justru memilki solidaritas yang lebih kuat berdasarkan factor norma, kepercayaan, serta budaya.
Teori Bunuh Diri
Durkheim mengatakan terdapat hubungan antara kasus bunuh diri dengan social pelakunya, yakni jenis kelamin, agama, usia, dan asal negara.
“Tipe-Tipe bunuh diri dari Emile Durkheim”
a. Egoistic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena rendahnya tingkat integrasi suatu kelompok social dan bersifat individual.
b. Altruistic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena integrasi social yang sangat kuat didalam masyarakat sehingga terlalu menekan.
c. Anomic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena adanya sikap putus asa diakibatkan krisis ekonomi.
d. Fatalistic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena masa depannya telah tertutup dan nafsu yang bertahan oleh disiplin yang menindas.
C. Teori Agama Durkheim :Sakral dan Profan
Dalam salah satu karya besarnya tentang agama, The Elementary Forms Of Religious Life, Durkheim dengan sangat berani menyatakan bahwa masyarakat mendirikan atau menciptakan agama dengan mendefinisikan fenomena tertentu sebagai sesuatu yang sacral dan hal lain profan. Menurut Durkheim, sesuatu yang sacral melahirkan sikap hormat, kagum, dan bahkan takut. Di sisi lain, sesuatu yang profan tidak menimbulkan sikap tersebut.
Itulah beberapa pemikiran pokok Emile Durkheim yang membuatnya diberi gelar salah satu bapak sosiologi, selain Auguste Comte.
2.3 Relevansi dari Teori Emile Durkheim
Berbicara masalah relevansi dari Teori Durkheim dengan masa sekarang. Nampaknya kita harus menelaah terlebih dahulu pengertian dari masing-masing teorinya. Pertama fakta social, menurut saya relevansi dari fakta social ini adalah diambil dari kutipannya, yakni Fakta social adalah objek studi sosiologi yang paling utama sekaligus mendasar, teori ini sepaham dengan saya karena ilmu sosiologi itu sendiri berbicara tentang masyarakat nah, oleh sebab itu jika kita ingin mengetahui konsep masyarakat dan lingkungannya kita perlu adakan yang namanya penelitian dilapangan untuk mendapatkan fakta social sehingga kita tidak hanya sekedar mengarang tanpa ada bukti.
Berbicara masalah relevansi dari teori Durkheim yang Kedua yakni Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis. Menurut saya relevansi teori solidaritas ini di ambil dari kutipannya, Solidaritas mekanis biasanya ditemukan pada masyarakat di era modern. Adapun Solidaritas Organis terdapat pada masyarakat primitive. Menurut saya relevansi pada masyarakat sekarang yakni lebih mengarah kepada suatu sikap saling membutuhkan dan ketergantungan kepada orang lain, dimana baik masyarakat modern maupun masyarakat primitive diikat oleh factor kebutuhan, masyarakat modern membutuhkan masyarakat primitive sebagai tenaga pekerja untuk menjalankan roda kegiatan ekonominya, begitu pula sebaliknya masyarakat primitive membutuhkan masyarakat modern untuk mendapatkan pekerjaan.
Selanjutnya, relevansi teori bunuh diri Durkheim pada masa sekarang yakni saya tidak begitu sepaham karena menurut Durkheim seseorang melakukan bunuh diri karena menderita gangguan mental, namun menurut saya fenomena bunuh diri ini bukan hanya terjadi karena factor gangguan mental saja akan tetapi keadaan lingkungan sekitar dan kebutuhan yang lebih dominan menjadi factor utama. Contoh seseorang akan mengakhiri hidupnya jika merasa kebutuhannya sulit untuk dipenuhi, dia dililit utang, sementara dia tidak mempunyai pekerjaan tetap dan pada akhirnya dia putus asa dan mengambil jalan pintas yakni bunuh diri.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Emile Durkheim lahir pada 15 April 1858 di Epinal, Prancis. Ayahnya adalah penganut Yahudi yang taat sedangkan kakeknya merupakan seorang rabi (pemuka agama yahudi). Saat menempuh pendidikan di sekolah menengah, Durkheim adalah siswa yang cerdas. Pada usia 21 tahun, ia dinyatakan diterima di Ecole Normale Superieure, ia mengambil studi ilmu sejarah dan filsafat. Emile Durkheim meninggal dunia pada 15 November 1917 pada usianya yang relative muda, yakni 59 tahun.
Teori Sosiologi Emile Durkheim yakni Fakta social terbagi menjadi fakta social material dan nonmaterial, kemudian Teori Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis, selanjutnya Teori Bunuh Diri dan Teori Agama meliputi Sakral dan Profan.
Relevansi dari teori-teori Emile Durkheim yakni kita bisa melihat beberapa dari teorinya masih berkaitan dengan realita masa sekarang seperti fakta social, Solidaritas Mekanis dan Organis, namun ada pula yang sedikit bertentangan seperti Teori Bunuh Dirinya.
3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini terdapat beberapa kesalahan dalam pengetikan baik itu bahasa latin maupun singkatan oleh karena itu sebaiknya pembaca menggunakan referensi buku bacaan yang berkaitan dengan Teori sosiologi Klasik Emile Durkheim sebagai bahan bacaan untuk memperjelas materi.
DAFTAR PUSTAKA
Aman, Nur Hidayah, Grendy Hendrastomo. Sosiologi Untuk SMA kela XII. Jakarta: Pusat Perbukuan.2009
Arisandi Herman. Buku Pintar Pemikiran Toko-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD.2015
Setiadi Elly.M, Usman Kolip. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Prenadamedia Group.2010
Untuk Tipe-Tipe Bunuh Diri dari Emile Durkheim Dikutip Dari Catatan-Catatan Kuliah Teori Sosiologi Klasik Pada Pertemuan Ke-6
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment