Friday, April 22, 2016
makalah teori Emile Durkheim
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap manusia selalu mengalami perubahan. Siklus perubahan yang dialami manusia dimulai sejak lahir-bayi-anak-remaja-dewasa-tua-mati. Perubahan terjadi pada setiap individu dalam lingkungan masyarakat, dan masing-masing individu juga sekaligus menjadi unsur dari system social dalam masyarakat tersebut. Sebagaimana konsep kebudayaan dapat dibedakan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka kebudayaan dapat dibedakan menjadi dua hal, yakni kebudayaan material dan immaterial. Demikian pula perubahan social yang terjadi dalam masyarakat juga dapat dikategorikan menjadi perubahan yang bersifat material dan immaterial. Perubahan yang menyangkut manusia dan masyarakat inilah yang dinamakan perubahan social .
Segala hal yang berkaitan dengan kehidupan pasti mengalami perubahan artinya bahwa perubahan terjadi karena adanya kehidupan. Tanpa kehidupan, maka tidak akan terjadi perubahan. Setiap masyarakat dengan sendirinya pasti mengalami perubahan. Anda dapat mengamati perubahan yang terjadi dilingkungan sekitar anda,
Perubahan sosial bergerak ke dua arah, yaitu ke arah yang positif dan ke arah yang negative. Perubahan ke arah positif dinamakan perkembangan atau dinamika. Sedangkan perubahan ke arah yang negatif terdapat banyak istilah seperti halnya degradasi, kemunduran, dan lain sebagainya. Setiap perubahan social baik yang positif maupun negative membawa akibat atau dampak bagi masyarakat. Dampak dari suatu perubahan pada umumnya berlangsung lama meskipun penyebabnya sederhana saja. Dengan demikian, sebagai individu dan anggota masyarakat kita harus menyadari arti penting perubahan, dan memaknainya untuk kelangsungan hidup yang lebih baik. Ini berarti perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah positif atau berupa perkembangan.
Dalam kajian Sosiologis, mengenal pula adanya hukum sebab-akibat. Sebagaimana telah Anda pelajari sebelumnya bahwa perubahan terjadi karena adanya kehidupan, dan berdampak pada kehidupan yang baru. Dengan demikian setelah ada penyebab perubahan, kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat yang mengalami perubahan tersebut. Masyarakat harus mampu menyesuaikian diri dengan perubahan-perubahan tersebut. Dalam menyikapi dampak perubahan itu sendiri, maka perlu sikap yang arif dan bijak dari setiap masyarakat, sehingga tidak terjebak pada cara-cara penerimaan yang menimbulkan konflik dan keruntuhan tatanan masyarakat.
Secara garis besar, perubahan social dipengaruhi oleh factor yang berasal dari dalam dan luar masyarakat itu sendiri. Di antara factor yang bersal dari dalam masyarakat seperti perubahan pada kondisi ekonomi, social, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun yang berasal dari luar masyarakat biasanya ialah yang terjadi diluar perencanaan manusia seperti bencana alam. Kedua factor-faktor ini memunculkan teori perubahan social, diantaranya Teori Evolusi (Evolusionary Theory) meliputi perubahan social secara lambat (Evolusi) dan perubahan social secara cepat (revolusi).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bangaimana Biografi Emile Durkheim?
2. Bangaimana Teori Sosiologi Dari Emile Durkheim?
3. Bangaimana Relevansi Dari Teori Emile Durkheim?
1.3. Tujuan yang Akan Dicapai
1. Untuk Mengetahui Dan Memahami Biografi Emile Durkheim.
2. Untuk Mengetahui Dan Memahami Teori Sosiologi Dari Emile Durkheim.
3. Untuk Mengetahui Dan Memahami Relevansi Dari Teori Emile Durkheim.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Biografi Emile Durheim (1858-1917)
Emile Durkheim lahir pada 15 April 1858 di Epinal, Prancis. Ayahnya adalah penganut Yahudi yang taat sedangkan kakeknya merupakan seorang rabi (pemuka agama yahudi). Karena merupakan keturunan rabi, maka secara otomatis ia belajar agama Yahudi. Pada usia belasan tahun, Durkheim menyangkal jika dirinya adalah keturunan rabi. Bahkan,ia kemudian menyangkal agama ayahnya dan memilih menjadi seorang sekuler.
Saat menempuh pendidikan di sekolah menengah, Durkheim adalah siswa yang cerdas. Pada usia 21 tahun, ia dinyatakan diterima di Ecole Normale Superieure, yakni salah satu pusat pendidikan terbaik di Prancis. Di tempat itu, ia mengambil studi ilmu sejarah dan filsafat. Durkheim kerap merasa kecewa dan menolak karir akademik tradisional di bidang filsafat seraya berusaha memperoleh pelatihan ilmiah yang bisa memandunya menjalani kehidupan social.
Walaupun Durkheim tertarik dengan sosiologi ilmiah, tetapi disiplin itu belum dikenal. Pada rentang tahun 1882 hingga 1887, ia mengajar filsafat di beberapa sekolah provinsi di sekitar Paris. Hasratnya terhadap ilmu pengetahuan semakin besar ketika ia melakukan perjalan ke Jerman. Tidak lama setelah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan beberapa karya yang melukiskan pengalamannya. Publikasi ini mendapat pengakuan di Departemen Filsafat Universitas Bordeaux pada tahun 1887. Di sana, Durkheim memberikan kuliah ilmu social untuk pertama kalinya di seluruh Prancis. Durkheim sangat antusias ketika mengajar materi tentang moral kepada calon pendidik adalah guru sekolah. Baginya, mengajar pelajaran moral kepada calon pendidik adalah tugas mulia karena dapat membenahi kerosotan moral yang terjadi di sana.
Tahun-tahun berikutnya ditandai dengan kesuksesan bagi Durkheim. Pada tahun 1893, ia menerbitkan tesis doctoral dalam bahasa Prancis berjudul The Division Of Labor In Society serta tesisnya dalam bahasa Latin tentang Montesqieu. Buku metodologis utamanya berjudul The Rule Of Sociological Method yang terbit pada tahun 1895. Kemudian, hal itu diikuti penerapan metode-metode tersebut dalam studi empiris pada buku Suicide. Pada tahun 1896, secara resmi ia diangkat menjadi professor di Universitas Bordeaux.
Pada tahun 1902, ia diundang oleh Universitas Sorbonne yang merupakan kampus paling terkenal di seluruh Prancis. Pada tahun 1906, ia menjadi professor resmi untuk ilmu pendidikan. Kemudian, pada tahun 1913, bidang ilmunya diubah menjadi ilmu pendidikan dan sosiologi. Sebelumnya, ia menerbitkan karya lain yang tidak kalah terkenal berjudul The Elementary Forms Of Religious Life pada tahun 1912. Emile Durkheim meninggal dunia pada 15 November 1917 pada usianya yang relative muda, yakni 59 tahun.
Adapun karya-karya Durkheim yang terkenal adalah The Division Of Labor In Society, The Elementary Forms Of Religious Life, The Rule Of Sociological Method.
2.2 Teori Sosiologi Klasik menurut Emile Durkheim
Durkheim adalah salah seorang yang memelopori perkembangan sosiologi. Ia telah banyak melakukan penelitian terhadap berbagai lembaga dalam masyarakat dan proses social yang selanjutnya membagi sosiologi kedalam tujuh bagian, yaitu
1.Sosiologi umum yang pembahasannya meliputi kepribadian individu dan kelompok manusia.
2.Sosiologi agama yang membahas perilaku para penganut agama yang terdiferensiasi (terbagi-bagi) dalam kelompok-kelompok agama yang berbeda-beda.
3.Sosiologi yang membahas tentang perilaku kejahatan baik kejahatan secara individual maupun secara kelompok.
4.Sosiologi hukum dan moral yang dominansi bahasan didalamnya adalah tentang organisasi politik, social, perkawinan dan keluarga.
5.Sosiologi ekonomi yang bahasan materinya mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja.
6.Sosiologi yang membahas perilaku masyarakat perkotaan (Urban society) dan perilaku masyarakat pedesaan (rural society).
7.Sosiologi estetika, yang pokok bahasannya mencakup karya seni dan budaya.
Teori Sosiologi Emile Durkheim,
A. Fakta Sosial sebagai Basis Ilmu Sosiologi
Ada dua pokok pemikiran Durkheim ketika ia mulai mengembangkan teori sosiologi klasiknya. Pertama, fakta social lebih utama dari pada fakta individual. kedua, ide bahwa fakta social bisa dijelaskan secara ilmiah. Sekalipun masih diperdebatkan, dua keyakinan itu nyatanya tetap menjadi inti dari studi sosiologi hingga saat ini.
Durkheim menyatakan bahwa fakta social adalah objek studi sosiologi yang paling utama sekaligus mendasar. Fakta social merupakan sebuah kekuatan dan struktur yang ada diluar, tetapi memiliki daya paksa terhadap individu. Dalam bukunya, The Rule Of Sociological Method (1895), tugas utama ilmu sosiologi yang baru lahir ini adalah mengkaji persoalan yang disebut fakta social.
Untuk melihat individu secara utuh, setiap orang hendaknya memperhatikan fakta social yang melingkupinya. Manusia hidup di dalam masyarakat, bukan sekedar bersama masyarakat. Masyarakat yang akan membentuk individu, bukan sebaliknya. Pernyataan Durkheim ini menekankan begitu pentingnya fakta social bagi keberadaan dan pembentukan manusia secara individu.
Durkheim mempercayai bahwa ide dasar sosiologi telah terbentuk sejak lama. Hal yang perlu ia lakukan adalah menggali ide-ide tersebut dan memisahkannya dari rumpun disiplin yang melingkupinya. Dalam hal ini, sosiologi masih mendapat pengaruh kuat dari filsafat dan psikologi. Dua ranah keilmuan tersebut juga salin mengklaim jika sosiologi hanyalah cabang filsafat atau sekedar pelengkap dari psikologi.
Untuk memisahkannya dari filsafat, Durkheim menekankan pembahasan sosiologi haruslah berupa fakta social. Ia menjelaskan bahwa fakta tersebut terdiri dari struktur social, norma budaya, agama dan kepercayaan, serta hal-hal yang berada diluar manusia tetapi memilki kekuatan memaksa. Artinya fakta social harus dipelajari berdasarka perolehan data dari luar pikiran, bukan menggunakan daya pikir intuitif yang tidak dilandasi studi lapangan sebagaimana filsafat. Dengan penekanan empiris terhadap fakta social.
1. Jenis Fakta Sosial
Durkheim membedakan fakta social menjadi dua, yakni material dan nonmaterial. Fakta social material relative lebih muda dipahami karena bisa diobservasi secara langsung melalui indra, seperti gaya arsitektur, institusi keagamaan, bentuk teknologi, dan hukum serta perundang-undangan tertulis.
Fakta social yang berikutnya bersifat nonmaterial. Fakta social jenis ini bersifat dorongan dari luar yang tidak tampak, seperti moral, norma, ajaran agama dan keyakinan, sertra budaya. Jenis fakta social nonmaterial inilah yang menjadi focus dan inti sosiologi Emile Durkheim. Menurutnya, fakta social nonmaterial tidak bisa diindra, tetapi ada dalam, pikiran individu. Sekalipun ada dalam pikiran, hal itu tetap berada dalam ketegori dorongan eksternal.
2. Bentuk Fakta Sosial Nomnmaterial
Selanjunya, Durkheim menjelaskan lebih lanjut mengenai fakta social nonmaterial. Ia berpendapat ada empat bentuk fakta social nonmaterial sebagai berikut.
a. Moralitas
Moralitas menurut Durkheim adalah fakta social. Hal ini disebabkan moralitas termasuk dorongan eksternal, dapat memaksa individu, serta bisa dijelaskan dengan fakta-fakta social lainnya.
b. Kesadaran Kolektif
Kesadaran kolektif merupakan sebuah sentiment yang diakibatkan oleh berbagai kesamaan, baik norma, budaya, ras, maupun keyakinan yang terwujud dari setiap individu.
c. Representasi Kolektif
Representasi kolektif merupakan daya social yang memaksa individu untuk menampilkan kesadarannya dalam berbagai bentuk symbol, seperti agama, mitos, ataupun tokoh panutan. Dan bisa mewujud dalam sebuah tindakan konkret atau tingkah laku.
d. Arus Sosial
Arus social atau dapat juga disebut fenomena social merupakan sebuah gejala dari fakta social lain yang mengakibatkan suatu perubahan pada masyarakat. Arus social juga bisa diartikan sebagai serangkaian makna yang disepakati dan dimiliki oleh seluruh anggota kelompok yang menimbulkan suatu dampak social.
B. Solidaritas Mekanis dan Organis
Didalam buku sekaligus desertasinya berjudul The Division Of Labor In Society (1893), Durkheim menjelaskan pembagian masyarakat dalam dua kesadaran kolektif yaitu solidaritas mekanis dan organis. Solidaritas mekanis biasanya ditemukan pada masyarakat di era modern. Adapun solidaritas organis terdapat pada masyarakat primitive.
Tipe kedua solidaritas tersebut menurut Durkheim jelas berbeda. Jika solidaritas mekanis diikat oleh factor kebutuhan dan spesialisasi pekerjaan atau profesi, masyarakat primitive justru memilki solidaritas yang lebih kuat berdasarkan factor norma, kepercayaan, serta budaya.
Teori Bunuh Diri
Durkheim mengatakan terdapat hubungan antara kasus bunuh diri dengan social pelakunya, yakni jenis kelamin, agama, usia, dan asal negara.
“Tipe-Tipe bunuh diri dari Emile Durkheim”
a. Egoistic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena rendahnya tingkat integrasi suatu kelompok social dan bersifat individual.
b. Altruistic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena integrasi social yang sangat kuat didalam masyarakat sehingga terlalu menekan.
c. Anomic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena adanya sikap putus asa diakibatkan krisis ekonomi.
d. Fatalistic Suicide, Yakni bunuh diri yang terjadi karena masa depannya telah tertutup dan nafsu yang bertahan oleh disiplin yang menindas.
C. Teori Agama Durkheim :Sakral dan Profan
Dalam salah satu karya besarnya tentang agama, The Elementary Forms Of Religious Life, Durkheim dengan sangat berani menyatakan bahwa masyarakat mendirikan atau menciptakan agama dengan mendefinisikan fenomena tertentu sebagai sesuatu yang sacral dan hal lain profan. Menurut Durkheim, sesuatu yang sacral melahirkan sikap hormat, kagum, dan bahkan takut. Di sisi lain, sesuatu yang profan tidak menimbulkan sikap tersebut.
Itulah beberapa pemikiran pokok Emile Durkheim yang membuatnya diberi gelar salah satu bapak sosiologi, selain Auguste Comte.
2.3 Relevansi dari Teori Emile Durkheim
Berbicara masalah relevansi dari Teori Durkheim dengan masa sekarang. Nampaknya kita harus menelaah terlebih dahulu pengertian dari masing-masing teorinya. Pertama fakta social, menurut saya relevansi dari fakta social ini adalah diambil dari kutipannya, yakni Fakta social adalah objek studi sosiologi yang paling utama sekaligus mendasar, teori ini sepaham dengan saya karena ilmu sosiologi itu sendiri berbicara tentang masyarakat nah, oleh sebab itu jika kita ingin mengetahui konsep masyarakat dan lingkungannya kita perlu adakan yang namanya penelitian dilapangan untuk mendapatkan fakta social sehingga kita tidak hanya sekedar mengarang tanpa ada bukti.
Berbicara masalah relevansi dari teori Durkheim yang Kedua yakni Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis. Menurut saya relevansi teori solidaritas ini di ambil dari kutipannya, Solidaritas mekanis biasanya ditemukan pada masyarakat di era modern. Adapun Solidaritas Organis terdapat pada masyarakat primitive. Menurut saya relevansi pada masyarakat sekarang yakni lebih mengarah kepada suatu sikap saling membutuhkan dan ketergantungan kepada orang lain, dimana baik masyarakat modern maupun masyarakat primitive diikat oleh factor kebutuhan, masyarakat modern membutuhkan masyarakat primitive sebagai tenaga pekerja untuk menjalankan roda kegiatan ekonominya, begitu pula sebaliknya masyarakat primitive membutuhkan masyarakat modern untuk mendapatkan pekerjaan.
Selanjutnya, relevansi teori bunuh diri Durkheim pada masa sekarang yakni saya tidak begitu sepaham karena menurut Durkheim seseorang melakukan bunuh diri karena menderita gangguan mental, namun menurut saya fenomena bunuh diri ini bukan hanya terjadi karena factor gangguan mental saja akan tetapi keadaan lingkungan sekitar dan kebutuhan yang lebih dominan menjadi factor utama. Contoh seseorang akan mengakhiri hidupnya jika merasa kebutuhannya sulit untuk dipenuhi, dia dililit utang, sementara dia tidak mempunyai pekerjaan tetap dan pada akhirnya dia putus asa dan mengambil jalan pintas yakni bunuh diri.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Emile Durkheim lahir pada 15 April 1858 di Epinal, Prancis. Ayahnya adalah penganut Yahudi yang taat sedangkan kakeknya merupakan seorang rabi (pemuka agama yahudi). Saat menempuh pendidikan di sekolah menengah, Durkheim adalah siswa yang cerdas. Pada usia 21 tahun, ia dinyatakan diterima di Ecole Normale Superieure, ia mengambil studi ilmu sejarah dan filsafat. Emile Durkheim meninggal dunia pada 15 November 1917 pada usianya yang relative muda, yakni 59 tahun.
Teori Sosiologi Emile Durkheim yakni Fakta social terbagi menjadi fakta social material dan nonmaterial, kemudian Teori Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Organis, selanjutnya Teori Bunuh Diri dan Teori Agama meliputi Sakral dan Profan.
Relevansi dari teori-teori Emile Durkheim yakni kita bisa melihat beberapa dari teorinya masih berkaitan dengan realita masa sekarang seperti fakta social, Solidaritas Mekanis dan Organis, namun ada pula yang sedikit bertentangan seperti Teori Bunuh Dirinya.
3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini terdapat beberapa kesalahan dalam pengetikan baik itu bahasa latin maupun singkatan oleh karena itu sebaiknya pembaca menggunakan referensi buku bacaan yang berkaitan dengan Teori sosiologi Klasik Emile Durkheim sebagai bahan bacaan untuk memperjelas materi.
DAFTAR PUSTAKA
Aman, Nur Hidayah, Grendy Hendrastomo. Sosiologi Untuk SMA kela XII. Jakarta: Pusat Perbukuan.2009
Arisandi Herman. Buku Pintar Pemikiran Toko-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD.2015
Setiadi Elly.M, Usman Kolip. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Prenadamedia Group.2010
Untuk Tipe-Tipe Bunuh Diri dari Emile Durkheim Dikutip Dari Catatan-Catatan Kuliah Teori Sosiologi Klasik Pada Pertemuan Ke-6
Sang Pemilik Hati
Allah Maha Tahu jika hamba-Nya sedang bersedih, sedang bahagia....
hanya kepada-Nya lah tempat meminta yang paling indah, yang paling sempurna
mencintai manusia, mausia kan mati...
mencintai bunga, bunga kan layu....
mencintai Allah, itulah yang seharusnya.....
ya Allah Rabbul izzati izinkan hati ini selalu memberikan senyum terindah untuk-Mu dalam setiap sujudku
ya Allah sang pemilik hati, jagalah selalu hatiku untuk selalu mengingatmu..
karena ku tau Engkaulah Tuhan Sang Pemilik Hati
hanya kepada-Nya lah tempat meminta yang paling indah, yang paling sempurna
mencintai manusia, mausia kan mati...
mencintai bunga, bunga kan layu....
mencintai Allah, itulah yang seharusnya.....
ya Allah Rabbul izzati izinkan hati ini selalu memberikan senyum terindah untuk-Mu dalam setiap sujudku
ya Allah sang pemilik hati, jagalah selalu hatiku untuk selalu mengingatmu..
karena ku tau Engkaulah Tuhan Sang Pemilik Hati
makalah mesir kuno
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama-agama yang ada di dunia pada awalnya bukanlah berbentuk seperti beragamnya agama pada masa sekarang ini. Pada mulanya, agama diawali oleh keyakinan, baik itu keyakinan pada roh-roh halus maupun roh-roh nenek moyang terdahulu.
Dalam sejarah panjang kehidupan manusia di dunia, ada dua kekuatan besar yang senantiasa mewarnai kehidupan, yaitu kepercayaan (agama) dan filsafat. Mereka berani mati emi mempertahankan agama atau kepercayaan, bahkan tidak banyak dari mereka mengorbankan harta, pikiran, serta tenaga hanya untuk mempertahankan kepercayaan mereka.
Sebelum agama-agama besar diduniamuncul, telah ada beberapa kepercayaan sebelumnya yang dianut oleh manusia-manusia terdahulu yang biasa dikenal denan sebutan agama primitif, seperti animisme yang mempercayai roh-roh atau jiwa suci. Dinamisme yang mempercayai akan benda-benda mempunyai roh atau kekuatan di dalamnya. Dll.
Ada beberapa negara yang memang mempunyai sejarah khusus mengenai agama di negaranya, seperti Yunani dengan kepercayaan Yunani Kuno, India dengan kepercayaan India Kuno, Romawi dengan kepercayaan Romawi Kuno, dan Mesir dengan kepercayaan Mesir Kuno.
Nah sekarang yang akan dibahas mengenai Kepercayaan Mesir Kuno. Sekitar lima ribu tahun yang lalu, segala aspek kehidupan bangsa Mesir, baik politik, sosial maupun ekonomi, pada umunya dipengaruhi oleh kepercayaan (agama) yang berorientasi pada Dewa.
Agama Mesir Kuno ini, merupakan lanjutan suatu agama yang mempunyai unsur-unsur yang masih primitif. Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa berbagai macam kedaan yang bertalian dengan kehidupan mereka yang sehari-hari, dipengaruhi oleh unsur-unsur alamiah, misalnya oleh pohon-pohon, batu-batu dan sungai-sungai. Itulah sebabnya maka mereka menyembah unsur-unsur tersebut.
Matahari dan sungai Nil merupakan dua kekuatan yang memberi hidup kepada negeri Mesir. Maka tidaklah mengherankan bila dewa-dewa utama di Mesir Kuno dihubungkan denga dua kekuatan ini
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Sejarah Mesir Kuno?
b. Bagaiaman Sistem Kepercayaan Mesir Kuno?
c. Bagaimana Peradaban Mesir Kuno?
C. Tujuan Masalah
a. Untuk Mengetahui Sejarah Mesir Kuno
b. Untuk mengetahui Sistem Kepercayaan Mesir Kuno
c. Untuk mengetahui Peradaban Mesir Kuno
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Mesir Kuno
Sejarah Mesir Kuno memiliki pola peradaban yang sangat panjang. Secara umum, kawasan Mesir Kuno terbagi dua , yaitu Mesir Bawah (Lower Egypt), merupakan hilir sungai Nil, yang terletak di utara dekat Laut Tengah, dan ,Mesir Atas (Upper Egypt), yang terletak di selatan lebih dekat hulu sungai Nil.
Menurut catatan sejarah, salah satu kota pertama yang ada di Mesir yang ada di Mesir ialah Hierakonpolis. Di Hierakonpolis, orang Mesir Kuno juga membuat lembaran seperti kertas dari daun papirus. Setelah daun papirus dikeringkan, di atasnya mereka menggambar dan menulis huruf hieroglif .
Sementara itu, terkait dengan perkembangan politik di Mesir Kuno, ada beberapa periode yang mengisi sejarah peradaban Mesir .
Periode Dinasti Awal, merupakan puncak dari evolusi berlansungnya budaya, agama, dan politik. Pada periode ini sangat sulit menetukan awal sebenarnya. Dalam sejarah tradisi Mesir Kuno, raja pertama yang memerintah seluruh Mesir adalah seorang pria yang bergelar Menes.
Setelah berakhirnya era Menes yang berhasil mempersatukan Mesir, lahirlah Kerajaan Mesir Tua. Adapun raja yang berhasil menjadi pemersatu mendapatkan gelar Nesutbiti, dan digambarkan memakai mahkota kembar. Pada zaman ini disebut zaman periode Piramida, karena pada masa inilah dibangun piramida-piramida terkenal.
Tahun 2134-2040 SM disebut periode peralihan pertama. Pada masa ini kekuasan Fir’aun mengalami penurunan. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri. Akibatnya, terjadilah perpecahan antara Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Setelah itu Mesir terbagi menjadi dua kerajaan.
Mesir kembali berhasil disatukan, dan pembangunan di berbagai bidang kembali digalakkan berkat kepemimpinan Sesotris III. Mesir berhasil meningkatkan perdagangan serta membuka hubungan dagang denganPalestina, Syiria, dan Pulau Kreta. Selain itu, Sesotris III juga berhasil memperluas wilayah ke selatan sampai Nubia (kini Etiopia). Akan tetapi, kejayaan yang diperolehnya itu tidak berlansung lama karena kerajaan ini diserbu oleh dan berhasil ditaklukkan oleh bangsa Hyksos.
Setelah mesir berhasil ditaklukkan oleh penguasa Hyksos dari Timur Tengah, kekuasan di Mesir dialihkan ke beberapa kerajaan lokal. Dalam perkembangannya, tepatnya pada akhir periode ini, Hyksos berhasil dikalahkan dan diusir oleh Fir’aun Thebes. Pada perode ini Mesir kembali berhasil disatukan. Sejak kemenangan yang diraihnya, kerajaan baru dimulai. Sepanjang Dinasti ke-18 ini, orang Mesir mulai menggunakan istilah Fir’aun. Selama periode ini, pemerintah Mesir melakukan banyak perluasan kerajaan. Mesir berhasil menguasai daerah yang terbentang dan meluas ke Selatan, ke tempat yang kini disebut Sudan dan ke Timur, ke wilayah Timur Tengah.
Dalam periode kerajaan baru ini, puncak kejayaanya dicapai pada masa dinasti ke-20, yaitu Thutmosis III, dialah raja terbesar di Mesir. Karena keberhasilannya itu, ia diberi gelar “Napoleon dari Mesir” pada masa kepemimpinanya, Thutmosis III juga dikenal karena memerintahkan pembangunan Kuil Karnak dan Luxor.
Setelah pemerintahan Thutmosis III berakhir, pemerintahan Mesir dilanjutkan oleh Amenhotep IV. Ia adalah seorang raja yang dikenal memperkenalkan kepercayaan yang bersifat monoteis, yaitu hanya menyembah Dewa Aton (dewa matahari), yang merupakan roh dan tidak berbentuk. Pemerintahan pada periode kerajaan baru ini berakhir setelah dipimpin oleh Ramses II. Ia dikenal membangun bangunan besar, seperti Ramesseum dan Kuil, serta makamnya di Abu Simbel. Selain itu juga, ia pernah memerintahkan penggalian sebuah terusan yang menghubungkan daerah sungai Nil dengan Laut Merah, namun belum berhasil.
Setelah berakhirnya pemerintahan Ramses II, kekuasaan Mesir semakin melemah. Hal ini dikarenakan para pemimpin berikutnya tidak pernah puas dengan kekuasaan dan kekayaannya. Akibat kerakusan itu, mereka mulai berperang dan memperluas wilayah. Akhirnya lama- kelamaan kekuatan Mesir semakin melemah.
Karena kekuatan Mesir semakin melemah, Mesir berada dalam masa suram, selama hampir tiga abad mesir lumpuh tidak berdaya menghadapi serangan-serangan dari Asia. Selanjutnya, pada abad ke-6 SM, Mesir dipimpin oleh Imperium Persia.
Akhirnya tiba pada masa periode akhir, yaitu masa kekuatan dan kekuasaan Mesir tidak disegani lagi oleh bangsa-bangsa lain. Bahkan Mesir berhasil di jajah dan dikuasai oleh beberapa bangsa, seperti Nubia, Assyiria, Persia, dan Yunani.
B. Sistem Kepercayaan Mesir Kuno
a. Piramida dan Mumi
pada masa-masa keemasannya, Mesir Kuno berhasil membangun beberapa bangunan spektakuler yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. Salah satu karya agung tersebut ialah Piramida. Piramida merupakan monumen yang terkenal di Mesir Kuno. Piramida telah dibangun oleh para raja Mesir pada zaman kerajaan Tua dan Kerajaan Tengah sebagai simbol dan kemegahan kekuasaan kerajaan.
Pada zaman ketika piramida –piramida tersebut dibangun, logam, perak, dan emas sudah dapat dicairkan (zaman logam). Emas dan perak tersebut diolah menjadi perhiasan-perhiasan serta patung-patung. Di dalam piramida, biasanya berisi banyak perhiasan dan patung-patung dari emas, perak dan permata sehingga menjadi incaran para perampok dan para penjajah. Biasanya para fir’aun sudah mendirikan piramida saat mereka sudah dewasa. Semua dinding dihias dengan gambar dan tulisan yang mengagung-agungkan diri mereka sendiri. Betuk piramida yang melancip melambangkan sinar matahari yang menyorot, sehingga Fir’aun yang dikubur disana dapat naik ke surga.
Kompleks pekuburan besar ini menyediakan sangat banyak informasi tentang masyarakat dan kebudayaan Mesir Kuno. Pembangunan piramida tidak dilakukan lagi setelah berakhirnya Kerajaan Tengah. Para raja Mesir selanjutnya menunjukkan kekuatan mereka dengan membangun kuil, yang mereka tunjukkan dengan pahatan dan ukiran monumental.
Selain karya berupa bangunan megah, berupa piramida dan kuil-kuil, hal lain yang menarik dari peradaban Mesir Kuno adalah Mumi (mayat yang diawetkan). Dalam tradisi mereka, ketika seorang raja yang meninggal maka badannya harus dimumikan. Semua organ tubuh bagian dalam, kecuali hati, dikeluarkan termasuk otak. Sesudah itu bahan kimia alami digunakan untuk mengawetkan tubuh Fir’aun yang sudah kosong itu. Proses pengawetan itu memerlukan waktu yang cukup lama, diperkirakan mencapai empat puluh hari. Selanjutnya tubuh Fir’aun itu dibungkus dengan kain-kain yang berisi jimat sebagai benda keramat yang dapat menghindari segala peristiwa buruk.
Setelah itu, mayat sang Fir’aun dikebumikan di kamar penguburan, biasanya tepat dipusat piramida. Dinding bagian dalam piramida telah diukir dengan teks suci dan mantra, sedangkan kamar telah diisi dengan harta yang mewah untuk digunakan oleh raja di alam baka (gerobak perang, makanan, minuman, emas, permata, dan pakaian). Setelah pemakaman raja, jalan lintasan pintu masuk ke kamar disegel dengan batu untuk melindunginya dari perampok.
b. Kepercayaan kepada Dewa
Dalam kepercayaan masyarakat Mesir Kuno, mereka mempercayai dan menyembah banyak dewa-dewi (politeisme). Dewa-dewi Mesir kebanyakan merupakn manifestasi dari alam. Tetapi terkadang, mereka memiliki kepercayaan animisme, dan kadang-kadang tetomisme, yaitu memuja dewa-dewa, roh-roh, dan binatang yang dianggap suci. Bangsa Mesir Kuno sangat memuliakan matahari yang disebut Dewa Ra atau Amun Ra. Matahari dipandang Dewa yang sangat berkuasa menetukan nasib bangsa Mesir pada saat itu.
Seperti telah disebutkan, dewa yang memiliki kedudukan paling tinggi dalam kepercayaan masyarakat Mesir Kuno adalah Amun Ra (matahari waktu tengah hari-hari). Dewa Ra dipandang sebagai dewa yag melahirkan dewa-dewa yang lainnya sehingga terdapat sembilan orang dewa pokok yang diyakini dan disembah oleh masyarakat Mesir Kuno. Dewa-dewa tersebut ialah
1. Dewa Ra yang diyakini sebagai Dewa Matahari
2. Dewa Nut yang diyakini sebagai Dewa Langit
3. Dewa Geb yang diyakini sebagai Dewa Bumi
4. Dewa Su yang diyakini sebagai Dewa Hawa
5. Dewa Tefnit yang diyakini sebagai Dewa Udara Panas
6. Dewa Osiris yang diyakini sebagai Dewa Sungai Nil
7. Dewa Isis yang diyakini sebagai Dewa Kesuburan
8. Dewa Sit yang diyakini sebagai Dewa Padang Pasir
9. Dewa Nefus yang diyakini sebagai Dewa Kekeringan.
Selain dewa-dewa tersebut di atas, mereka juga menunjukkan dewa-dewa kecil yang bersifat individual atau bersifat lokal (setempat). Dewa-dewa kecil ini dipuja oleh kelompok suku-suku, dinasti dan raja-raja atau Fir’aun tertentu. Dengan kepercayaan kepada adanya dewa-dewa kecil itu, maka muncullah 42 dewa-dewa yang terdiri atas 9 dewa besar, dan 33 dewa kecil lainnya yang mendapatkan pemujaan sepanjang masa.
Dewa-dewa kecil tersebut melambangkan kekuatan alam dan terdiri atas binatang-binatang yang dipandang suci dan dipuja oleh mereka, diantaranya ialah
1. Dewa Aton (Dewa Matahari di Ufuk Timur atau Pagi Hari),
2. Dewa Horus (Dewa Musim Semi),
3. Dewa Funix (Dewa Burung Bangau),
4. Dewa Ibis (Dewa Burung Air),
5. Dewa Hator (Dewa Sapi), dan
6. Dewa Apis (Dewa Lembu Jantan)
c. Keyakinan kepada Kebangkitan dan Keabadian
Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematian menuju hidup abadi. Ketika kematian menjemput, arwah seseorang akan naik ke langit berbentuk seperti burung. Jika jasadnya tetap utuh setelah dimakamkan maka arwahnya berarti akan kembali kepadanya. Jadi, menurut keyakinan bangsa Mesir Kuno, kematian bukanlah sebuah akhir, karena seseorang akan hidup kembali seperti semula. Keyakinan inilah yang membuat mereka memumikan jenazah seseorang. Demi menjaga keutuhannya, dan inilah yang mendasari mereka membangun piramida besar.
Selain itu, kepercayaan tersebut juga dapat diteliti dari peninggalan berbentuk batu-batu dan lukisan di dinding piramida yang berisi huruf hieroglif. Ternyata, bangsa Mesir Kuno mempercayai surga sebagai wilayah yang mirip dengan keadaann tepi Sungai Nil, yang disebut ladang-ladang ber-Papirus (fields of reeds), yang segala tanaman tumbuh berlimpah. Dewa Osiris menjaga pintu surga dan hanya mengizinkan masuk roh-roh yang sepanjang hidupnya berkelakuan baik. Sebelum roh-roh mendapat izin masuk ke surga , mereka harus melewati siksaan dan perjalanan yang dahsyat di neraka. Untuk memungkinkan perjalanan ini dapat dilewati dengan baik, banyak upacara dan mantra yang harus dikumandangkan.
Pada awalnya, dalam kepercayaan masyarakat Mesir Kuno, hanya Fir’aun dan keluarga dekatnya yang dianggap dapat hidup abadi. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya mereka yakiini bahwa semua orang bisa hidup abadi setelah mati.
Sebagaimana dijumpai dalam naskah Papyrus yang berasal dari Thebes yang mengacu pada tahun 1025 SM., dijelaskan bahwa orang yang sudah mati akan mendapatkan pengadilan. Dewa Anubis akan menjadi pengadil. Dewa Anubis akan menimbang jantung orang yang sudah meninggal dengan timbangan keadilan. Sementara, Osiris sebagai Dewa Kematian, berada di sebelah kanan Anubis mengikuti persidangan. Karena itulah, bangsa Mesir Kuno percaya bahwa arwah setelah mati akan dipersidangkan sesuai perbuatan yang dilakukan selama di dunia. Dengan begitu, orang baik akan diganjar pahala kebaikan, sedangkan orang jahat akan dihukum atas kejahatannya.
Dalama naskah kuno tersebut, juga disebutkan bahwa persidangan itu terdiri atas 42 hakim yang mewakili beberapa wilayah Mesir yang dipimpin oleh Dewa Osiris sebagai Dewa Kematian. Semetara itu, jantung si mayat diletakkan di salah satu sisi timbangan, dan sisi lainnya diletakkan bulu mewakili Dewi Maat, Dewi Kejujuran dan Keadilan, sekaligus putri dari Dewa Ra. Apabila timbangannya ringan maka berarti orang itu suci dan akan di tempatkan di surga, namun jika timbangannya berat, maka berarti ia adalah pendosa yang akan digiring ke neraka.
C. Peradaban Mesir Kuno
a. Sistem administrasi dan perdagangan Mesir Kuno
Fir’aun biasanya digambarkan menggunakan simbol kebangsawanan dan kekuasaan. Fir’aun adalah raja yang berkuasa penuh atas negara setidaknya dalam teori dan memegang kendali atas semua tanah dan sumber dayanya. Fir’aun juga merupakan komandan militer tertinggi dan kepala pemerintahan, yang bergantung pada birokrasi pejabat untuk mengurusi masalah-masalahnya. Yang bertanggug jawab atas masalah administrasi adalah orang kedua di kerajaan yaitu sang wazir yang juga berperan sebagai perwakilan raja yang mengkoordinir survei tanah, kas negara, proyek pembanguna, sistem hukum, dan arsip-arsip kerajaan.
Sebagian besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir sehingga mereka menggunakan sejenis uang barter, berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram) tembaga atau perak sebagai denominatornya..Pada abad ke 5 sebelum masehi, uang koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan sebagai nilai standar dari logam mulia dibanding sebagai uang yang sebenarnya, baru beberapa abad kemudian uang koin mulai digunakan sebagai standar perdagangan.
b. Status Sosial
Masyarakat Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dari status sosial yang dimiliki oleh seseorangditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai petani, namun demikian hasil pertaniannya dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa membuat irigasi atau pryek konstruksi. Seniman dan pengrajin mempunyai status yang lebih tinggi dari petani. Juru tulis dan pejabat menempati strata tertinggi di Mesir Kuno.
c. Sistem Hukum
Sistem hukum di Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, meskipun belum ada undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta menekankan cara untuk membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik.
Dewan sesepuh lokal, yang dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil, kasus yang lebih besar termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi tanah dalam jumlah besar, dan pencurian makam diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta untuk bersumpah bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya.
d. Pertanian
Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang.
Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Musim banjir berlangsung dari Juni hingga September. Setelah banjir surut, musim tanam berlangsung dari Oktober hingga Februari. Petani membajak dan menanam bibit di ladang. Irigasi dibuat dengan parit dan kanal. Mesir hanya mendapat sedikit hujan, sehingga petani sangat bergantung dengan sungai Nil dalam pengairan tanaman. Dari Maret hingga Mei, petani menggunakan sabit untuk memanen. Selanjutnya, hasil panen dirontokkan untuk memisahkan jerami dari gandum. Masyarakat Mesir kuno sudah mengenal cara pengolahan lahan tanah dengan menggunakan hewan seperti lembu.
e. Bahasa dan Tulisan
Bahasa Mesir adalah bahasa Afro Asiatik yang berhubungan dekat dengan Bahasa Berber dan Semit. Bahasa Mesir ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak waktu yang lebih lama.
Bangsa Mesir Kuno sudah mengenal sebuah tulisan Hieroglif. Hieroglif adalah aksara resmi, digunakan pada monumen batu dan kuburan. Pada penulisan sehari-hari, juru tulis menggunakan tuisan Kursif, yang disebut keramat. Tulisan kursif ini lebih cepat dan mudah. Aksara kramat selalu di tulis dari kanan ke kiri. Sebuah bentuk baru penulisan, demtik menjadi gaya penulisan umum dan inilah bentuk tulisan bersama dengan hieroglif formal.
f. Budaya
Sebagian besar masyarakat Mesir Kuno bekerja sebagai petani. Kediaman mereka terbuat dari tanah liat yang didesain untuk menjaga udara tetap dingin di siang hari. Setiap rumah memiliki dapur dengan atap terbuka. Tembok dicat warna putih dan beberapa juga ditutupi dengan hiasan berupa linen yang diberi warna. Lantai ditutupi dengan tikar buluh dilengkapi dengan furnitur sederhana untuk duduk dan tidur.
Bangsa Mesir Kuno sangat menghargai penampilan dan kebersihan tubuh. Sebagian besar mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun yang terbuat dari lemak binatang dan kapur. Laki-laki bercukur untuk menjaga kebersihan, menggunakan minyak wangi dan salep untuk mengharumkan dan menyegarkan kulit. Anak-anak tidak mengenakan pakaian hingga mereka dianggap dewasa, pada usia sekitar 12 tahun, dan pada usia ini laki-laki disunat dan dicukur. Ibu bertanggung jawab menjaga anaknya, sementara sang ayah bertugas mencari nafkah.
Musik dan tarian menjadi hiburan yang paling populer bagi mereka yang mampu membayar untuk melihatnya. Instrumen yang digunakan antara lain seruling dan harpa, juga instrumen yang mirip terompet juga digunakan. Bangsa Mesir Kuno mengenal berbagai macam hiburan, permainan dan musik.
g. Arsitektur dan seni
Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling terkenal yaitu Piramida Giza dan kuil Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, maupun untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno mampu membangun struktur batu dengan peralatan sederhana namun efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi.
Kediaman baik untuk kalangan elit maupun masyarakat biasa dibuat dari bahan yang mudah hancur seperti batu bata dan kayu, karenanya tidak ada satu pun yang terisa saat ini. Kaum tani tinggal di rumah sederhana, di sisi lain, rumah kaum elit memiliki struktur yang rumit. Struktur penting seperti kuil atau makam dibuat dengan batu agar dapat bertahan lama.
Bangsa Mesir Kuno memproduksi seni untuk berbagai tujuan. Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Seniman Mesir Kuno dapat menggunakan batu dan kayu sebagai bahan dasar untuk memahat. Cat didapatkan dari mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih perunggu (biru dan hijau), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat dapat dicampur dengan gum arab sebagai pengikat dan ditekan (press), disimpan untuk kemudian diberi air ketika hendak digunakan. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan di pertempuran, dekrit kerajaan, atau peristiwa religius. Pada masa Kerajaan Pertengahan, model kayu atau tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi populer untuk ditambahkan di makam. Sebagai usaha menduplikasi aktivitas hidup di kehidupan setelah kematian, model ini diberi bentuk buruh, rumah, perahu, bahkan formasi militer. Meskipun bentuknya hampir homogen, pada waktu tertentu gaya karya seni Mesir Kuno terkadang mengikuti perubahan kultural atau perilaku politik. Salah satu contoh perubahan gaya akibat adanya perubahan politik yang menonjol adalah bentuk artistik yang dibuat pada masa Amarna: patung-patung disesuaikan dengan gaya pemikiran religius Akhenaton. Gaya ini, yang dikenal seni Armana, langsung diganti dan dibuah ke bentuk tradisional setelah kematian Akhenaton
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mesir Kuno adalah sebuah peradaban Kuno di bagian Timur Afrika Utara. Peradaban ini dimulai pada tahun 3150 SM di bawah pemerintahan Fir’aun pertama. Fir’aun adalah orang terkuat di Mesir Kuno. Fir’aun adalah pemimpin pemimpin politik dan agama masyarakat Mesir.
Mesir terkenal dengan kehidupan sosial dan budayanya. Peradaban Mesir Kuno adalah salah satu peradaban yang pertama kali menggunakan bahasa tulis. Mereka menulis pada makam, tebiklar, dan kertas pairus yang terbuat dari alang-alang yang ditenun..
Bahasa pertama Mesir Kuno adalah Bahasa Afro Asiatik yang berhubungan dekat dengan Bahasa Berber dan Semit. Bahasa Mesir ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak waktu yang lebih lamA, dan tulisan pertamanya adalah huruf hieroglif yang terdiri dari gambar . tulisan hieroglif pertama kali digunakan pada bangunan dan makam. Hal ni diyakini bahwa masyarakat Mesir pertama kali mengembangkan tulisan penulisan ini pada sekitar 3000 SM.
B. Saran
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kiranya dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari segi penulisannya maupun dari segi bahasanya, kami mohon kritik dan saran demi perbaikan makalah kami selanjutnya.
Daftar Pustaka
Nonci, Hajir. Sosiologi Agama.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama-agama yang ada di dunia pada awalnya bukanlah berbentuk seperti beragamnya agama pada masa sekarang ini. Pada mulanya, agama diawali oleh keyakinan, baik itu keyakinan pada roh-roh halus maupun roh-roh nenek moyang terdahulu.
Dalam sejarah panjang kehidupan manusia di dunia, ada dua kekuatan besar yang senantiasa mewarnai kehidupan, yaitu kepercayaan (agama) dan filsafat. Mereka berani mati emi mempertahankan agama atau kepercayaan, bahkan tidak banyak dari mereka mengorbankan harta, pikiran, serta tenaga hanya untuk mempertahankan kepercayaan mereka.
Sebelum agama-agama besar diduniamuncul, telah ada beberapa kepercayaan sebelumnya yang dianut oleh manusia-manusia terdahulu yang biasa dikenal denan sebutan agama primitif, seperti animisme yang mempercayai roh-roh atau jiwa suci. Dinamisme yang mempercayai akan benda-benda mempunyai roh atau kekuatan di dalamnya. Dll.
Ada beberapa negara yang memang mempunyai sejarah khusus mengenai agama di negaranya, seperti Yunani dengan kepercayaan Yunani Kuno, India dengan kepercayaan India Kuno, Romawi dengan kepercayaan Romawi Kuno, dan Mesir dengan kepercayaan Mesir Kuno.
Nah sekarang yang akan dibahas mengenai Kepercayaan Mesir Kuno. Sekitar lima ribu tahun yang lalu, segala aspek kehidupan bangsa Mesir, baik politik, sosial maupun ekonomi, pada umunya dipengaruhi oleh kepercayaan (agama) yang berorientasi pada Dewa.
Agama Mesir Kuno ini, merupakan lanjutan suatu agama yang mempunyai unsur-unsur yang masih primitif. Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa berbagai macam kedaan yang bertalian dengan kehidupan mereka yang sehari-hari, dipengaruhi oleh unsur-unsur alamiah, misalnya oleh pohon-pohon, batu-batu dan sungai-sungai. Itulah sebabnya maka mereka menyembah unsur-unsur tersebut.
Matahari dan sungai Nil merupakan dua kekuatan yang memberi hidup kepada negeri Mesir. Maka tidaklah mengherankan bila dewa-dewa utama di Mesir Kuno dihubungkan denga dua kekuatan ini
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Sejarah Mesir Kuno?
b. Bagaiaman Sistem Kepercayaan Mesir Kuno?
c. Bagaimana Peradaban Mesir Kuno?
C. Tujuan Masalah
a. Untuk Mengetahui Sejarah Mesir Kuno
b. Untuk mengetahui Sistem Kepercayaan Mesir Kuno
c. Untuk mengetahui Peradaban Mesir Kuno
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Mesir Kuno
Sejarah Mesir Kuno memiliki pola peradaban yang sangat panjang. Secara umum, kawasan Mesir Kuno terbagi dua , yaitu Mesir Bawah (Lower Egypt), merupakan hilir sungai Nil, yang terletak di utara dekat Laut Tengah, dan ,Mesir Atas (Upper Egypt), yang terletak di selatan lebih dekat hulu sungai Nil.
Menurut catatan sejarah, salah satu kota pertama yang ada di Mesir yang ada di Mesir ialah Hierakonpolis. Di Hierakonpolis, orang Mesir Kuno juga membuat lembaran seperti kertas dari daun papirus. Setelah daun papirus dikeringkan, di atasnya mereka menggambar dan menulis huruf hieroglif .
Sementara itu, terkait dengan perkembangan politik di Mesir Kuno, ada beberapa periode yang mengisi sejarah peradaban Mesir .
Periode Dinasti Awal, merupakan puncak dari evolusi berlansungnya budaya, agama, dan politik. Pada periode ini sangat sulit menetukan awal sebenarnya. Dalam sejarah tradisi Mesir Kuno, raja pertama yang memerintah seluruh Mesir adalah seorang pria yang bergelar Menes.
Setelah berakhirnya era Menes yang berhasil mempersatukan Mesir, lahirlah Kerajaan Mesir Tua. Adapun raja yang berhasil menjadi pemersatu mendapatkan gelar Nesutbiti, dan digambarkan memakai mahkota kembar. Pada zaman ini disebut zaman periode Piramida, karena pada masa inilah dibangun piramida-piramida terkenal.
Tahun 2134-2040 SM disebut periode peralihan pertama. Pada masa ini kekuasan Fir’aun mengalami penurunan. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri. Akibatnya, terjadilah perpecahan antara Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Setelah itu Mesir terbagi menjadi dua kerajaan.
Mesir kembali berhasil disatukan, dan pembangunan di berbagai bidang kembali digalakkan berkat kepemimpinan Sesotris III. Mesir berhasil meningkatkan perdagangan serta membuka hubungan dagang denganPalestina, Syiria, dan Pulau Kreta. Selain itu, Sesotris III juga berhasil memperluas wilayah ke selatan sampai Nubia (kini Etiopia). Akan tetapi, kejayaan yang diperolehnya itu tidak berlansung lama karena kerajaan ini diserbu oleh dan berhasil ditaklukkan oleh bangsa Hyksos.
Setelah mesir berhasil ditaklukkan oleh penguasa Hyksos dari Timur Tengah, kekuasan di Mesir dialihkan ke beberapa kerajaan lokal. Dalam perkembangannya, tepatnya pada akhir periode ini, Hyksos berhasil dikalahkan dan diusir oleh Fir’aun Thebes. Pada perode ini Mesir kembali berhasil disatukan. Sejak kemenangan yang diraihnya, kerajaan baru dimulai. Sepanjang Dinasti ke-18 ini, orang Mesir mulai menggunakan istilah Fir’aun. Selama periode ini, pemerintah Mesir melakukan banyak perluasan kerajaan. Mesir berhasil menguasai daerah yang terbentang dan meluas ke Selatan, ke tempat yang kini disebut Sudan dan ke Timur, ke wilayah Timur Tengah.
Dalam periode kerajaan baru ini, puncak kejayaanya dicapai pada masa dinasti ke-20, yaitu Thutmosis III, dialah raja terbesar di Mesir. Karena keberhasilannya itu, ia diberi gelar “Napoleon dari Mesir” pada masa kepemimpinanya, Thutmosis III juga dikenal karena memerintahkan pembangunan Kuil Karnak dan Luxor.
Setelah pemerintahan Thutmosis III berakhir, pemerintahan Mesir dilanjutkan oleh Amenhotep IV. Ia adalah seorang raja yang dikenal memperkenalkan kepercayaan yang bersifat monoteis, yaitu hanya menyembah Dewa Aton (dewa matahari), yang merupakan roh dan tidak berbentuk. Pemerintahan pada periode kerajaan baru ini berakhir setelah dipimpin oleh Ramses II. Ia dikenal membangun bangunan besar, seperti Ramesseum dan Kuil, serta makamnya di Abu Simbel. Selain itu juga, ia pernah memerintahkan penggalian sebuah terusan yang menghubungkan daerah sungai Nil dengan Laut Merah, namun belum berhasil.
Setelah berakhirnya pemerintahan Ramses II, kekuasaan Mesir semakin melemah. Hal ini dikarenakan para pemimpin berikutnya tidak pernah puas dengan kekuasaan dan kekayaannya. Akibat kerakusan itu, mereka mulai berperang dan memperluas wilayah. Akhirnya lama- kelamaan kekuatan Mesir semakin melemah.
Karena kekuatan Mesir semakin melemah, Mesir berada dalam masa suram, selama hampir tiga abad mesir lumpuh tidak berdaya menghadapi serangan-serangan dari Asia. Selanjutnya, pada abad ke-6 SM, Mesir dipimpin oleh Imperium Persia.
Akhirnya tiba pada masa periode akhir, yaitu masa kekuatan dan kekuasaan Mesir tidak disegani lagi oleh bangsa-bangsa lain. Bahkan Mesir berhasil di jajah dan dikuasai oleh beberapa bangsa, seperti Nubia, Assyiria, Persia, dan Yunani.
B. Sistem Kepercayaan Mesir Kuno
a. Piramida dan Mumi
pada masa-masa keemasannya, Mesir Kuno berhasil membangun beberapa bangunan spektakuler yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. Salah satu karya agung tersebut ialah Piramida. Piramida merupakan monumen yang terkenal di Mesir Kuno. Piramida telah dibangun oleh para raja Mesir pada zaman kerajaan Tua dan Kerajaan Tengah sebagai simbol dan kemegahan kekuasaan kerajaan.
Pada zaman ketika piramida –piramida tersebut dibangun, logam, perak, dan emas sudah dapat dicairkan (zaman logam). Emas dan perak tersebut diolah menjadi perhiasan-perhiasan serta patung-patung. Di dalam piramida, biasanya berisi banyak perhiasan dan patung-patung dari emas, perak dan permata sehingga menjadi incaran para perampok dan para penjajah. Biasanya para fir’aun sudah mendirikan piramida saat mereka sudah dewasa. Semua dinding dihias dengan gambar dan tulisan yang mengagung-agungkan diri mereka sendiri. Betuk piramida yang melancip melambangkan sinar matahari yang menyorot, sehingga Fir’aun yang dikubur disana dapat naik ke surga.
Kompleks pekuburan besar ini menyediakan sangat banyak informasi tentang masyarakat dan kebudayaan Mesir Kuno. Pembangunan piramida tidak dilakukan lagi setelah berakhirnya Kerajaan Tengah. Para raja Mesir selanjutnya menunjukkan kekuatan mereka dengan membangun kuil, yang mereka tunjukkan dengan pahatan dan ukiran monumental.
Selain karya berupa bangunan megah, berupa piramida dan kuil-kuil, hal lain yang menarik dari peradaban Mesir Kuno adalah Mumi (mayat yang diawetkan). Dalam tradisi mereka, ketika seorang raja yang meninggal maka badannya harus dimumikan. Semua organ tubuh bagian dalam, kecuali hati, dikeluarkan termasuk otak. Sesudah itu bahan kimia alami digunakan untuk mengawetkan tubuh Fir’aun yang sudah kosong itu. Proses pengawetan itu memerlukan waktu yang cukup lama, diperkirakan mencapai empat puluh hari. Selanjutnya tubuh Fir’aun itu dibungkus dengan kain-kain yang berisi jimat sebagai benda keramat yang dapat menghindari segala peristiwa buruk.
Setelah itu, mayat sang Fir’aun dikebumikan di kamar penguburan, biasanya tepat dipusat piramida. Dinding bagian dalam piramida telah diukir dengan teks suci dan mantra, sedangkan kamar telah diisi dengan harta yang mewah untuk digunakan oleh raja di alam baka (gerobak perang, makanan, minuman, emas, permata, dan pakaian). Setelah pemakaman raja, jalan lintasan pintu masuk ke kamar disegel dengan batu untuk melindunginya dari perampok.
b. Kepercayaan kepada Dewa
Dalam kepercayaan masyarakat Mesir Kuno, mereka mempercayai dan menyembah banyak dewa-dewi (politeisme). Dewa-dewi Mesir kebanyakan merupakn manifestasi dari alam. Tetapi terkadang, mereka memiliki kepercayaan animisme, dan kadang-kadang tetomisme, yaitu memuja dewa-dewa, roh-roh, dan binatang yang dianggap suci. Bangsa Mesir Kuno sangat memuliakan matahari yang disebut Dewa Ra atau Amun Ra. Matahari dipandang Dewa yang sangat berkuasa menetukan nasib bangsa Mesir pada saat itu.
Seperti telah disebutkan, dewa yang memiliki kedudukan paling tinggi dalam kepercayaan masyarakat Mesir Kuno adalah Amun Ra (matahari waktu tengah hari-hari). Dewa Ra dipandang sebagai dewa yag melahirkan dewa-dewa yang lainnya sehingga terdapat sembilan orang dewa pokok yang diyakini dan disembah oleh masyarakat Mesir Kuno. Dewa-dewa tersebut ialah
1. Dewa Ra yang diyakini sebagai Dewa Matahari
2. Dewa Nut yang diyakini sebagai Dewa Langit
3. Dewa Geb yang diyakini sebagai Dewa Bumi
4. Dewa Su yang diyakini sebagai Dewa Hawa
5. Dewa Tefnit yang diyakini sebagai Dewa Udara Panas
6. Dewa Osiris yang diyakini sebagai Dewa Sungai Nil
7. Dewa Isis yang diyakini sebagai Dewa Kesuburan
8. Dewa Sit yang diyakini sebagai Dewa Padang Pasir
9. Dewa Nefus yang diyakini sebagai Dewa Kekeringan.
Selain dewa-dewa tersebut di atas, mereka juga menunjukkan dewa-dewa kecil yang bersifat individual atau bersifat lokal (setempat). Dewa-dewa kecil ini dipuja oleh kelompok suku-suku, dinasti dan raja-raja atau Fir’aun tertentu. Dengan kepercayaan kepada adanya dewa-dewa kecil itu, maka muncullah 42 dewa-dewa yang terdiri atas 9 dewa besar, dan 33 dewa kecil lainnya yang mendapatkan pemujaan sepanjang masa.
Dewa-dewa kecil tersebut melambangkan kekuatan alam dan terdiri atas binatang-binatang yang dipandang suci dan dipuja oleh mereka, diantaranya ialah
1. Dewa Aton (Dewa Matahari di Ufuk Timur atau Pagi Hari),
2. Dewa Horus (Dewa Musim Semi),
3. Dewa Funix (Dewa Burung Bangau),
4. Dewa Ibis (Dewa Burung Air),
5. Dewa Hator (Dewa Sapi), dan
6. Dewa Apis (Dewa Lembu Jantan)
c. Keyakinan kepada Kebangkitan dan Keabadian
Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa manusia akan dibangkitkan kembali setelah kematian menuju hidup abadi. Ketika kematian menjemput, arwah seseorang akan naik ke langit berbentuk seperti burung. Jika jasadnya tetap utuh setelah dimakamkan maka arwahnya berarti akan kembali kepadanya. Jadi, menurut keyakinan bangsa Mesir Kuno, kematian bukanlah sebuah akhir, karena seseorang akan hidup kembali seperti semula. Keyakinan inilah yang membuat mereka memumikan jenazah seseorang. Demi menjaga keutuhannya, dan inilah yang mendasari mereka membangun piramida besar.
Selain itu, kepercayaan tersebut juga dapat diteliti dari peninggalan berbentuk batu-batu dan lukisan di dinding piramida yang berisi huruf hieroglif. Ternyata, bangsa Mesir Kuno mempercayai surga sebagai wilayah yang mirip dengan keadaann tepi Sungai Nil, yang disebut ladang-ladang ber-Papirus (fields of reeds), yang segala tanaman tumbuh berlimpah. Dewa Osiris menjaga pintu surga dan hanya mengizinkan masuk roh-roh yang sepanjang hidupnya berkelakuan baik. Sebelum roh-roh mendapat izin masuk ke surga , mereka harus melewati siksaan dan perjalanan yang dahsyat di neraka. Untuk memungkinkan perjalanan ini dapat dilewati dengan baik, banyak upacara dan mantra yang harus dikumandangkan.
Pada awalnya, dalam kepercayaan masyarakat Mesir Kuno, hanya Fir’aun dan keluarga dekatnya yang dianggap dapat hidup abadi. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya mereka yakiini bahwa semua orang bisa hidup abadi setelah mati.
Sebagaimana dijumpai dalam naskah Papyrus yang berasal dari Thebes yang mengacu pada tahun 1025 SM., dijelaskan bahwa orang yang sudah mati akan mendapatkan pengadilan. Dewa Anubis akan menjadi pengadil. Dewa Anubis akan menimbang jantung orang yang sudah meninggal dengan timbangan keadilan. Sementara, Osiris sebagai Dewa Kematian, berada di sebelah kanan Anubis mengikuti persidangan. Karena itulah, bangsa Mesir Kuno percaya bahwa arwah setelah mati akan dipersidangkan sesuai perbuatan yang dilakukan selama di dunia. Dengan begitu, orang baik akan diganjar pahala kebaikan, sedangkan orang jahat akan dihukum atas kejahatannya.
Dalama naskah kuno tersebut, juga disebutkan bahwa persidangan itu terdiri atas 42 hakim yang mewakili beberapa wilayah Mesir yang dipimpin oleh Dewa Osiris sebagai Dewa Kematian. Semetara itu, jantung si mayat diletakkan di salah satu sisi timbangan, dan sisi lainnya diletakkan bulu mewakili Dewi Maat, Dewi Kejujuran dan Keadilan, sekaligus putri dari Dewa Ra. Apabila timbangannya ringan maka berarti orang itu suci dan akan di tempatkan di surga, namun jika timbangannya berat, maka berarti ia adalah pendosa yang akan digiring ke neraka.
C. Peradaban Mesir Kuno
a. Sistem administrasi dan perdagangan Mesir Kuno
Fir’aun biasanya digambarkan menggunakan simbol kebangsawanan dan kekuasaan. Fir’aun adalah raja yang berkuasa penuh atas negara setidaknya dalam teori dan memegang kendali atas semua tanah dan sumber dayanya. Fir’aun juga merupakan komandan militer tertinggi dan kepala pemerintahan, yang bergantung pada birokrasi pejabat untuk mengurusi masalah-masalahnya. Yang bertanggug jawab atas masalah administrasi adalah orang kedua di kerajaan yaitu sang wazir yang juga berperan sebagai perwakilan raja yang mengkoordinir survei tanah, kas negara, proyek pembanguna, sistem hukum, dan arsip-arsip kerajaan.
Sebagian besar perekonomian diatur secara ketat dari pusat. Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir sehingga mereka menggunakan sejenis uang barter, berupa karung beras dan beberapa deben (satuan berat yang setara dengan 91 gram) tembaga atau perak sebagai denominatornya..Pada abad ke 5 sebelum masehi, uang koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan sebagai nilai standar dari logam mulia dibanding sebagai uang yang sebenarnya, baru beberapa abad kemudian uang koin mulai digunakan sebagai standar perdagangan.
b. Status Sosial
Masyarakat Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dari status sosial yang dimiliki oleh seseorangditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai petani, namun demikian hasil pertaniannya dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa membuat irigasi atau pryek konstruksi. Seniman dan pengrajin mempunyai status yang lebih tinggi dari petani. Juru tulis dan pejabat menempati strata tertinggi di Mesir Kuno.
c. Sistem Hukum
Sistem hukum di Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, meskipun belum ada undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta menekankan cara untuk membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik.
Dewan sesepuh lokal, yang dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil, kasus yang lebih besar termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi tanah dalam jumlah besar, dan pencurian makam diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta untuk bersumpah bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya.
d. Pertanian
Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang.
Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Musim banjir berlangsung dari Juni hingga September. Setelah banjir surut, musim tanam berlangsung dari Oktober hingga Februari. Petani membajak dan menanam bibit di ladang. Irigasi dibuat dengan parit dan kanal. Mesir hanya mendapat sedikit hujan, sehingga petani sangat bergantung dengan sungai Nil dalam pengairan tanaman. Dari Maret hingga Mei, petani menggunakan sabit untuk memanen. Selanjutnya, hasil panen dirontokkan untuk memisahkan jerami dari gandum. Masyarakat Mesir kuno sudah mengenal cara pengolahan lahan tanah dengan menggunakan hewan seperti lembu.
e. Bahasa dan Tulisan
Bahasa Mesir adalah bahasa Afro Asiatik yang berhubungan dekat dengan Bahasa Berber dan Semit. Bahasa Mesir ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak waktu yang lebih lama.
Bangsa Mesir Kuno sudah mengenal sebuah tulisan Hieroglif. Hieroglif adalah aksara resmi, digunakan pada monumen batu dan kuburan. Pada penulisan sehari-hari, juru tulis menggunakan tuisan Kursif, yang disebut keramat. Tulisan kursif ini lebih cepat dan mudah. Aksara kramat selalu di tulis dari kanan ke kiri. Sebuah bentuk baru penulisan, demtik menjadi gaya penulisan umum dan inilah bentuk tulisan bersama dengan hieroglif formal.
f. Budaya
Sebagian besar masyarakat Mesir Kuno bekerja sebagai petani. Kediaman mereka terbuat dari tanah liat yang didesain untuk menjaga udara tetap dingin di siang hari. Setiap rumah memiliki dapur dengan atap terbuka. Tembok dicat warna putih dan beberapa juga ditutupi dengan hiasan berupa linen yang diberi warna. Lantai ditutupi dengan tikar buluh dilengkapi dengan furnitur sederhana untuk duduk dan tidur.
Bangsa Mesir Kuno sangat menghargai penampilan dan kebersihan tubuh. Sebagian besar mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun yang terbuat dari lemak binatang dan kapur. Laki-laki bercukur untuk menjaga kebersihan, menggunakan minyak wangi dan salep untuk mengharumkan dan menyegarkan kulit. Anak-anak tidak mengenakan pakaian hingga mereka dianggap dewasa, pada usia sekitar 12 tahun, dan pada usia ini laki-laki disunat dan dicukur. Ibu bertanggung jawab menjaga anaknya, sementara sang ayah bertugas mencari nafkah.
Musik dan tarian menjadi hiburan yang paling populer bagi mereka yang mampu membayar untuk melihatnya. Instrumen yang digunakan antara lain seruling dan harpa, juga instrumen yang mirip terompet juga digunakan. Bangsa Mesir Kuno mengenal berbagai macam hiburan, permainan dan musik.
g. Arsitektur dan seni
Karya arsitektur bangsa Mesir Kuno yang paling terkenal yaitu Piramida Giza dan kuil Thebes. Proyek pembangunan dikelola dan didanai oleh pemerintah untuk tujuan religius, sebagai bentuk peringatan, maupun untuk menunjukkan kekuasaan firaun. Bangsa Mesir Kuno mampu membangun struktur batu dengan peralatan sederhana namun efektif, dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi.
Kediaman baik untuk kalangan elit maupun masyarakat biasa dibuat dari bahan yang mudah hancur seperti batu bata dan kayu, karenanya tidak ada satu pun yang terisa saat ini. Kaum tani tinggal di rumah sederhana, di sisi lain, rumah kaum elit memiliki struktur yang rumit. Struktur penting seperti kuil atau makam dibuat dengan batu agar dapat bertahan lama.
Bangsa Mesir Kuno memproduksi seni untuk berbagai tujuan. Selama 3500 tahun, seniman mengikuti bentuk artistik dan ikonografi yang dikembangkan pada masa Kerajaan Lama. Seniman Mesir Kuno dapat menggunakan batu dan kayu sebagai bahan dasar untuk memahat. Cat didapatkan dari mineral seperti bijih besi (merah dan kuning), bijih perunggu (biru dan hijau), jelaga atau arang (hitam), dan batu kapur (putih). Cat dapat dicampur dengan gum arab sebagai pengikat dan ditekan (press), disimpan untuk kemudian diberi air ketika hendak digunakan. Firaun menggunakan relief untuk mencatat kemenangan di pertempuran, dekrit kerajaan, atau peristiwa religius. Pada masa Kerajaan Pertengahan, model kayu atau tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi populer untuk ditambahkan di makam. Sebagai usaha menduplikasi aktivitas hidup di kehidupan setelah kematian, model ini diberi bentuk buruh, rumah, perahu, bahkan formasi militer. Meskipun bentuknya hampir homogen, pada waktu tertentu gaya karya seni Mesir Kuno terkadang mengikuti perubahan kultural atau perilaku politik. Salah satu contoh perubahan gaya akibat adanya perubahan politik yang menonjol adalah bentuk artistik yang dibuat pada masa Amarna: patung-patung disesuaikan dengan gaya pemikiran religius Akhenaton. Gaya ini, yang dikenal seni Armana, langsung diganti dan dibuah ke bentuk tradisional setelah kematian Akhenaton
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mesir Kuno adalah sebuah peradaban Kuno di bagian Timur Afrika Utara. Peradaban ini dimulai pada tahun 3150 SM di bawah pemerintahan Fir’aun pertama. Fir’aun adalah orang terkuat di Mesir Kuno. Fir’aun adalah pemimpin pemimpin politik dan agama masyarakat Mesir.
Mesir terkenal dengan kehidupan sosial dan budayanya. Peradaban Mesir Kuno adalah salah satu peradaban yang pertama kali menggunakan bahasa tulis. Mereka menulis pada makam, tebiklar, dan kertas pairus yang terbuat dari alang-alang yang ditenun..
Bahasa pertama Mesir Kuno adalah Bahasa Afro Asiatik yang berhubungan dekat dengan Bahasa Berber dan Semit. Bahasa Mesir ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak waktu yang lebih lamA, dan tulisan pertamanya adalah huruf hieroglif yang terdiri dari gambar . tulisan hieroglif pertama kali digunakan pada bangunan dan makam. Hal ni diyakini bahwa masyarakat Mesir pertama kali mengembangkan tulisan penulisan ini pada sekitar 3000 SM.
B. Saran
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kiranya dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari segi penulisannya maupun dari segi bahasanya, kami mohon kritik dan saran demi perbaikan makalah kami selanjutnya.
Daftar Pustaka
Nonci, Hajir. Sosiologi Agama.
Subscribe to:
Comments (Atom)